<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-19448952</id><updated>2011-04-21T16:05:06.581-07:00</updated><title type='text'>Agung Hadiwijaya</title><subtitle type='html'>beware of laziness</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19448952/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15355119585970269501</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>2</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19448952.post-113335498774711837</id><published>2005-11-30T04:44:00.000-08:00</published><updated>2005-11-30T04:49:47.756-08:00</updated><title type='text'>Tak Luput Dari Kritikan</title><content type='html'>&lt;em&gt;BEM Fakultas Sastra menggelar inaugurasi. Pesta keakraban berubah menjadi perpecahan.&lt;br /&gt;Kinerja BEM kembali dipertanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;Oleh Agung Hadiwijaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabu, 4 Mei 2005, pukul 20.30 WIB. Rintik hujan mulai reda. Malam itu, Auditorium Universitas Diponegoro (Audit-Undip) dikerumuni oleh massa. Ada yang duduk-duduk di depan pintu masuk. Ada pula yang tengah antri di loket pembelian karcis.&lt;br /&gt;Sementara itu, beberapa pria paruh baya tengah mondar-mandir menghampiri setiap pengunjung yang datang.&lt;br /&gt;"Mas, karcisnya ini Mas. Harganya sama, delapan ribu rupiah," tutur salah seorang diantaranya.&lt;br /&gt;Mereka adalah para calo tiket. Mereka membeli tiket dari panitia dengan harga Rp 7.500,00 dan menjualnya dengan harga Rp 8.000,00.&lt;br /&gt;Sempat terjadi ketegangan saat para calo protes kepada panitia. Tiket yang mereka jual banyak yang tidak laku karena ternyata panitia mengeluarkan dua jenis tiket. Yakni tiket seharga Rp 5.000,00 untuk mahasiswa Sastra dan Rp 8.000,00 untuk umum. Para calo mengaku kesal karena banyak pengunjung yang mengaku mahasiswa Sastra.&lt;br /&gt; Alunan suara musik terdengar dari dalam gedung auditorium. "Inaugurasi Fakultas Sastra Undip" tengah berlangsung. Acara yang bertajuk "Fresh Grezz Taste" ini diisi dengan pentas musik. Beberapa band lokal yang lolos seleksi turut meramaikan acara. Tak jauh dari panggung, beberapa pengunjung duduk lesehan menikmati penampilan para band pembuka. Sebagian pengunjung masih enggan mendekat. Mereka memilih melihat dari kejauhan. Acara berlangsung kurang meriah.&lt;br /&gt;Koncar, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2000, sempat tertidur pulas di dalam audit. Padahal saat itu sounds system terdengar keras.&lt;br /&gt;"Acara musiknya nggak seru. Aku ngantuk ya tidur aja...." ungkapnya dengan nada santai. Menurutnya, acaranya garing dan kurang menarik.&lt;br /&gt;Tiba-tiba seorang pria naik ke atas panggung. Awalnya hanya sebagian penonton yang di dekat panggung saja yang memerhatikan ulahnya. Ia berdiri dengan memegang mikrofon.&lt;br /&gt;"Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Kreatifitas mahasiswa Fakultas Sastra telah mati...." ucap pria itu.&lt;br /&gt;Suasana hening. Perhatian pengunjung tertuju padanya.&lt;br /&gt;Namun suasana kembali riuh, saat pria itu melanjutkan pembicaraannya. Sekitar tiga menit ia berbicara di atas panggung. Apa yang disampaikannya tak begitu terdengar jelas oleh riuhnya massa.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, sang bintang tamu yang ditunggu-tunggu naik ke atas panggung. Salah seorang kru Mitra Band berteriak memberi salam. Pengunjung membalas dengan teriakan yang tak kalah histeris. Mereka bangkit dari tempat duduknya dan mendekat ke arah panggung. Pengunjung yang tadinya masih di luar pun mulai masuk setelah pintu dibuka. Panitia rupanya tak lagi menarik biaya tiket masuk. Artinya, ticketing sudah tidak berlaku. Namun demikian, pengunjung yang hadir hanya memenuhi setengah ruangan auditorium.&lt;br /&gt;Asep Iskandarsyah, ketua EDSA, HMJ Sastra Inggris, yang waktu itu menjadi panitia inaugurasi mengakui ketidaksuksesan acara yang digelar malam itu.&lt;br /&gt;"Menurutku, inaugurasi tadi malam bisa dibilang kurang sukseslah. Target tidak bisa tercapai," tuturnya yang saat itu menangani ticketing. &lt;br /&gt;Menurutnya, salah satu sebabnya karena susunan acara yang sempat diubah-ubah. Selain itu juga masalah sounds system yang kurang bagus.&lt;br /&gt; "Sounds systemnya juga jelek,  suaranya kurang jelas," tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;TANDA-tanda ketidakberhasilan sebenarnya mulai tercium sebelum acara inaugurasi dilangsungkan.  Dalam internal panitia sendiri sudah ada masalah. Bahkan beberapa UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) seperti WMS, Matrapala, dan EMKA undur diri dari kepanitiaan. Pasalnya, mereka tidak setuju dengan konsep yang telah dibuat.&lt;br /&gt;"Mereka ingin menampilkan identitas sebagai mahasiswa Sastra, tapi konsep acara yang diusulkan tidak disetujui. Alasannya selalu sama, dana." ungkap Asep, perwakilan dari EDSA.&lt;br /&gt;Asep  mengaku, ia yang mengusulkan konsep acara dengan nama "Fresh Grezz Taste" tersebut. "Waktu itu (kepengurusan Oktora, Red) nggak ada inaugurasi, kita pengen nyegerin lagi, ini loh Sastra yang baru," tuturnya menjelaskan maksud dari usulannya itu.&lt;br /&gt;Mengenai konsep acaranya, Asep mengusulkan diadakan UKM-HMJ/HMPSD Ekspo selama satu minggu. Pada acara puncak malam inaugurasi, masing-masing UKM-HMJ/HMPSD diberi kesempatan untuk menampilkan kreativitasnya.&lt;br /&gt;"Tapi, menurut Fian, (panggilan akrab Nur Alfian, ketua panitia inaugurasi, Red), kendalanya adalah dana. Padahal  menurutku masih banyak alternatif lain yang masih bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut."&lt;br /&gt;"Sayang, setiap usulan yang ada hanya ditampung dan tidak dibahas. Nah, hal itu yang sangat aku sayangkan, "ungkapnya kesal.  &lt;br /&gt;Saat itu Asep memutuskan keluar dari kepanitiaan."Saya memang menyatakan keluar dari kepanitiaan inaugurasi ini, tapi bukan karena saya nggak setuju dengan konsep, melainkan karena kesibukan saya di EDSA," tambahnya. &lt;br /&gt;Dede, perwakilan dari WMS juga menyatakan keluar dari kepanitiaan inaugurasi. Ia mengaku tidak setuju dengan konsep acara yang ditetapkan. Menurutnya, walaupun nanti ada acara pertunjukan kreativitas dari UKM dan HMJ, tapi tidak akan efektif.&lt;br /&gt;Menurutnya, inaugurasi paling tidak harus bisa menunjukkan identitas Sastra di mata penonton. Acara inaugurasi hendaknya bukan hanya acara hiburan semata.&lt;br /&gt;"Ada beberapa usulan memang dari kita, tapi nggak tahu ya ketua panitianya kok tetap kukuh," ucapnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, Rika, Ketua Teater EMKA, juga berkomentar tentang inaugurasi ini. Menurutnya konsep inaugurasi tidak sesuai dengan idealisme EMKA.&lt;br /&gt;"Kita nggak menuntut apa-apa. Okelah kalo emang mau ngadain acara ini, tapi yang menurut Sastra. Yang nyastralah..." katanya.&lt;br /&gt;Rika mengaku EMKA telah ditawari tampil dalam inaugurasi. Tapi, karena merasa nggak cocok dengan konsep yang dipakai, EMKA menolak tawaran itu. Menurutnya, penonton yang sudah bayar otomatis mau nonton band. "Kalau EMKA maksain teater di acara itu, ya nggak masuk," tuturnya.&lt;br /&gt;EMKA menginginkan acara inaugurasi ini lebih merakyat. "Kalaupun acaranya musik, tapi musik-musik Sastra yang semua orang bisa menikmatinya," tambah Rika.&lt;br /&gt;Menanggapi masalah ini, Alfian mengatakan bahwa perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Tapi, ia juga menegaskan bahwa konsep acara yang digunakan adalah konsep yang telah disepakati forum. Ia juga menyayangkan usulan yang ditawarkan oleh beberapa UKM itu muncul setelah panitia setengah jalan.&lt;br /&gt;"Konsep itu adalah keputusan bersama. Kita sudah setengah jalan, masa harus merubah konsep lagi?" Ujarnya.&lt;br /&gt;Hal senada juga disampaikan oleh Asep. "Aku juga kesal. Kenapa mereka (yang tak setuju, Red) ngomongnya pas panitia sudah setengah jalan. Kita sudah mikir susah. Kesan yang muncul kegiatan itu seperti kerja segelintir panitia. Aku sebenarnya kasihan sama mereka (panitia, Red), sudah rela ngorbanin waktu dan tenaga tiba-tiba dijadikan sebagai kambing hitam oleh segelintir orang yang tidak bertanggungjawab."&lt;br /&gt;"Tapi, antusiasme anak Sastranya cukup besar. Dari teman-teman yang nanya langsung ke aku banyak. Mereka menanyakan bintang tamu dan tiket," tambahnya.&lt;br /&gt;Menanggapi pro-kontra di atas, Ifo Alfianto, ketua HMPSD III Perpustakaan dan Informasi (Perpin) mempunyai sikap lain. Meski sedang sibuk, ia tetap mengirim perwakilan dari Perpin untuk mengikuti perkembangan kegiatan inaugurasi.&lt;br /&gt;Selain di HMPSD III Perpin, saat ini, Ifo mengaku masih aktif di UKM KSR. Oleh karena itu, ia mengaku tak begitu paham dengan proses penyusunan konsep dalam inaugurasi tersebut. Namun karena itu merupakan kegiatan bersama, ia tetap mendukung.&lt;br /&gt;"Saya memang tak suka dengan acara band-band-an. Tapi karena katanya ini program bareng, Perpin ikut. Dalam hal ini, Perpin mengirimkan dua delegasi. Pokoknya orang-orang yang suka band lah," tutur Ifo.&lt;br /&gt;" ... Tapi kalau misalnya sampai teknis agak beda, ya aku sendiri agak bingung, bedanya di mana? Perpin pokoknya mendukung dengan sepenuhnya karena ini kegiatan bersama,” tambahnya.&lt;br /&gt;Bila inaugurasi merupakan kegiatan bersama, tapi mengapa ada yang menolak. Sebenarnya acara ini program siapa?&lt;br /&gt;Menurut Sukarno, mahasiswa Sastra Inggris 2002, yang juga wakil presiden BEM, kegiatan inaugurasi tersebut merupakan program wajib BEM.&lt;br /&gt;"Dalam inaugurasi ini kita sudah mengajak UKM dan HMJ untuk terlibat. Namun kalau ada yang tidak setuju, ini merupakan hal yang wajar. BEM tak punya kewenangan untuk mengatur. Kita hanya menjadi koordinator saja," ungkapnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKAR persoalan sebenarnya terletak pada konsep yang digunakan untuk acara inaugurasi ini. Konsep yang dipakai panitia dinilai tidak mewakili seluruh aspirasi UKM-HMJ/HMPSD. Keputusan yang diambil dianggap sebagai keputusan sepihak.&lt;br /&gt;"Yang jadi permasalahan adalah pengambilan keputusan Fian. Dari EMKA mengusulkan konsep kerakyatan. Mereka ingin menunjukkan identitas Sastra. Fian nggak cepat merespon, padahal ia tahu keinginan mereka," ungkap Asep.&lt;br /&gt;Asep juga mengaku kecewa karena konsep "Fresh Gress Taste" yang dipakai oleh panitia tak sesuai dengan konsep awal seperti yang ia usulkan. Salah satunya, seperti usulan diadakan UKM Ekspo yang ternyata tidak disepakati.&lt;br /&gt;Mengenai adanya penarikan tiket masuk, Asep bisa memaklumi karena panitia juga tak mau rugi. Menurutnya, UKM-HMJ/HMPSD sebenarnya juga tak mempermasalahkan ticketing. Meski demikian, bukan berarti semua pihak lantas mendukungnya.&lt;br /&gt;"Kita (EMKA, Red) tidak mempermasalahkan tiket. Ya kita tahulah panitia juga nggak mau rugi. Tapi, yang jelas ada perbedaan idealisme," tutur Rika.&lt;br /&gt;Permasalahan inagurasi lainnya  ternyata juga sudah muncul saat panitia menggelar audisi band. Sebanyak 37 band  ikut mendaftar.  Mereka berasal dari band kampus dan band sekolah di Semarang. Peserta yang lolos diberi kesempatan untuk tampil sebagai band pembuka pada malam inaugurasi.&lt;br /&gt;Namun, dari hasil seleksi, keempat band yang lolos ternyata tak satu pun berasal dari Sastra. Padahal, beberapa peserta yang ikut, banyak yang beranggotakan mahasiswa Sastra. Seperti yang dialami oleh Handriyo, mahasiswa D III Bahasa Inggris 2002.&lt;br /&gt;"Aku memang mengikuti audisi band ini, tapi katanya nggak lolos. Padahal banyak band dari Sastra yang juga ikut audisi, tapi kok nggak satu pun yang lolos. Sebenarnya mau BEM apa sih?" ungkap Bandrek, panggilan akrab Handriyo, kesal.&lt;br /&gt;Menurut Fian panitia sudah berusaha bekerja secara profesional. Waktu itu juri diambil dari panitia, musisi Semarang, dan juri dari Studio Sterra yang beralamat di sebelah Unisbank, Pandanaran.&lt;br /&gt;"Kalau memang band itu bagus, ya kita loloskan, tapi kalau nggak, ya nggak bisa, karena juga banyak peserta yang ikut. Panitia harus berlaku adil. Lagian, jatah untuk UKM-HMJ juga sudah ada," ungkap Fian. Saat itu ia menjadi juri mewakili panitia.&lt;br /&gt;"Ya benar, banyak band dari Sastra yang ikut malam itu," Restu menimpalinya. Restu adalah mahasiswa D III Inggris 2004. Saat ini ia menjadi fungsionaris muda BEM.&lt;br /&gt;Fian menyebutkan nama-nama Band Sastra yang tampil pada malam itu. Sweet Vanilla, Duyung Dayani, Girl Side, Autumn. Band-band itu semua anggotanya adalah mahasiswa Sastra kecuali Sweet Vanilla yang salah satu personilnya dari luar Sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELAIN kegiatan inaugurasi, secara umum, BEM Fakultas Sastra tidak sepi dari komentar. Ada yang memuji, dan tak jarang pula yang mengkritik.&lt;br /&gt;Ari, mahasiswa Sastra Inggris 2003, menilai bahwa BEM yang sekarang lebih baik dari yang sebelumnya. "Kalau menurut saya, BEM yang sekarang jauh lebih baik daripada yang dulu. Ya, tapi kita lihat lagi nantilah. Soalnya, sekarang belum bisa dinilai secara keseluruhan," ungkapnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Hal senada juga disampaikan Asep. Menurutnya, BEM sekarang lebih hidup dari yang sebelumnya. "Saya melihat Pengurus BEM yang sekarang lebih bisa konsisten dan terlihat lebih baik koordinasinya. Kalau dulu kan BEM terkesan tertutup dan eksklusif," ungkapnya.&lt;br /&gt;Lain halnya dengan Rika. Menurutnya, BEM sama seperti dulu (Periode Oktora, Red), Walaupun BEM sekarang sedikit lebih hidup. Mereka tidak bisa membaur dengan mahasiswa dan khususnya UKM-HMJ/HMPSD.&lt;br /&gt;"Membaur? Sama aja, nggak ada perubahan. Kalau pun dulu BEM ruangannya sering ditutup, itu bisa dimaklumi karena emang nggak ada orang. Tapi sekarang ada pun nggak bisa jadi satu," katanya.&lt;br /&gt;Sementara itu Sabiq, ketua Senat Mahasiswa Fakultas Sastra (SEMA FS), mengatakan bahwa BEM yang sekarang memang terlihat lebih terbuka. Tetapi masih banyak hal yang harus diperbaiki lagi. Salah satunya adalah masalah koordinasi dengan UKM-HMJ yang dirasa masih kurang.&lt;br /&gt;"Selama ini BEM dirasa kurang punya wibawa karena koordinasinya belum maksimal. Seharusnya BEM bisa lebih membaur dengan mahasiswa sehingga mereka merasa bahwa BEM bagian dari mereka" tutur mahasiswa Jurusan Sejarah 2003 ini.&lt;br /&gt;Sabiq juga menyoroti adanya prinsip kesetaraan antar lembaga kemahasiswaan di Fakultas Sastra berpengaruh terhadap kedudukan BEM. Tapi juga ia menegaskan bahwa hal itu bukan kendala bila koordinasi BEM dengan UKM-HMJ bisa berjalan.&lt;br /&gt;"Kalau dijalankan dengan benar, hal ini (prinsip kesetaraan tersebut, Red) malah bagus" tambahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SETELAH kegiatan inaugurasi, BEM mempunyai program Pelatihan Penulisan Karya Ilmiah Mahasiswa. Kegiatan ini merupakan program wajib BEM yang telah dilaksanakan pada Selasa, 24 Mei 2005.&lt;br /&gt; Selain itu, mulai awal Juni lalu, BEM juga telah menggelar Pekan Olah Raga Sastra (PORSA). Kegiatannya berupa turnamen catur dan basket.  Turnamen catur diikuti atas nama perorangan, sedang turnamen basket diikuti oleh beberapa tim yang mewakili HMJ/HMPSD.&lt;br /&gt;Selanjutnya, pada liburan semester bulan Juli, BEM akan mengadakan Seminar Budaya, Up Grading pengurus BEM.&lt;br /&gt;Baru-baru ini, tanggal 16-17 Juni 2005, lembaga kemahasiswaan di Sastra menyelenggarakan UKM-HMJ/HMPSD ekspo dan refleksi budaya. SEMA FS ditunjuk sebagai koordinator kegiatan. Kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Lustrum VIII FS Undip, yang diadakan lima tahun sekali. Kali ini merupakan ulang tahun FS Undip yang ke-40.&lt;br /&gt;Namun, kegiatan itu kurang mendapat respon dari mahasiswa Sastra. Beberapa lembaga mahasiswa juga tidak ikut andil dalam kegiatan. Stan-stan pameran yang disediakan oleh panitia di kampus Sastra Tembalang hanya sebagian yang terisi.  Padahal, menurut Sabiq, ketua panitia, panitia telah mengundang seluruh UKM-HMJ/HMPSD untuk berpartisipasi.&lt;br /&gt;Pemandangan serupa juga terjadi di sore harinya, saat Diskusi dan Refleksi Kebudayaan digelar di kampus Pleburan. Acara diisi diskusi dengan tema “Optimalisasi Budaya Lokal Sebagai Upaya Memperkuat Identitas Bangsa” dan pementasan seni. Tampil sebagai pembicara diskusi Dr. Mudjahirin Tohir, pakar budaya dan dosen FS Undip, dan Djawahir Muhamad, seniman Semarang serta Drs. Dhanang RP, M. Hum. sebagai moderator diskusi. Teater EMKA, Sego Rames, komunitas seniman anak jalanan Semarang turut mementaskan kreativitasnya di acara itu. Acara berakhir sekitar pukul 22.00 WIB, ditutup dengan penampilan kolaborasi antara Sego Rames dan komunitas Papua di Semarang yang menyanyikan lagu-lagu Papua.&lt;br /&gt; Mulanya kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada pertengahan bulan Mei. Namun karena tersendatnya koordinasi, lagi-lagi sulitnya mengumpulkan seluruh UKM-HMJ/HMPSD, dan menunggu pencairan dana dari fakultas, kegiatan ini ditunda sampai dengan pertengahan bulan Juni. Acara yang semula direncanakan akan dilaksanakan selama dua hari, sehari di kampus atas (Tembalang) dan sehari lagi di kampus bawah (Pleburan), juga hanya menjadi satu hari. Pagi di kampus atas dengan acara UKM-HMJ/HMPSD ekspo dan sorenya dilanjutkan diskusi dan refleksi kebudayaan di kampus bawah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SAAT INI, Karel Juniardi, Presiden BEM Fakultas Sastra periode 2004/2005, mempunyai tugas untuk mengembalikan citra BEM yang selama ini dinilai lemah. Ia menyadari bahwa BEM yang dulu banyak menuai kritik dari banyak pihak.&lt;br /&gt;"Saya menyadari bahwa tugas saya yang berat adalah mengembalikan citra BEM yang sempat jatuh" ungkapnya. &lt;br /&gt;Karel adalah mahasiswa Jurusan Sejarah angkatan 2001. Ia dilantik menjadi Presiden BEM FS pada tanggal 30 Oktober 2004, menggantikan Oktora Rahmat, mahasiswa Sastra Inggris 1999, Presiden BEM periode sebelumnya.&lt;br /&gt;Posisi Karel sekarang ini merupakan buah dari kemenangannya pada Pemilihan Raya (Pemira) yang diadakan pada 13 Oktober 2004. Ia berhasil menyisihkan keempat pesaingnya dengan mengantongi 215 suara dari 651 suara untuk pemilihan Presiden BEM yang sah. Keempat pesaing tersebut secara urut berdasar perolehan suara yakni M Fahmi, mahasiswa D III Jepang; Musfiroh, mahasiswa D III Inggris; Muhamad Roy, mahasiswa Ekstensi Sastra Inggris; dan Sukarno, mahasiswa Sastra Inggris.&lt;br /&gt;Antusiasme mahasiswa Sastra dalam Pemira kali ini mengalami peningkatan dari periode sebelumnya. Sebagai gambaran, dari total kartu suara 1600 buah, yakni masing-masing 800 buah untuk kartu suara BEM dan senat mahasiswa, terpakai  sebanyak 1356 kartu suara. Kartu suara sah tercatat, 651 untuk BEM dan 589 kartu suara untuk Sema. Data tersebut sesuai Laporan Pertanggungjawaban KPR yang diketuai Heri C Santoso, mahasiswa Sastra Indonesia 2002 dan Handoko Saputro, mahasiswa D III Inggris 2003, sebagai sekretaris KPR.&lt;br /&gt;Kendati demikian, bukan berarti semua mahasiswa Sastra telah terlibat dalam pemilihan ketua BEM dan Sema Fakultas Sastra tersebut. Jumlah yang terlibat hanya 35 persen dari sekitar 2000 jumlah mahasiswa Sastra.&lt;br /&gt;Ketakterlibatan sebagian mahasiswa Sastra dalam Pemira bukan hanya karena kurangnya publikasi dari panita, tapi karena mereka merasa tak perlu dengan adanya lembaga kemahasiswaan tersebut. Seperti yang dinyatakan oleh Somat, mahasiswa D III Bahasa Inggris 2003. Ia mengaku tak peduli dengan keberadaan BEM. Oleh karenanya, ia tak menggunakan hak pilihnya saat Pemira. Alasannya, ia menganggap ada-tidaknya BEM tak memengaruhi keberadannya di Sastra.&lt;br /&gt;"Sekarang kita lihat, apa sih kerja BEM? Manfaatnya buat kita apa?" ungkapnya.&lt;br /&gt;Fenomena sikap apolitis mahasiswa sudah lama disinyalir oleh para aktivis mahasiswa Sastra. Tingkat partisipasi mahasiswa dalam lembaga-lembaga mahasiswa yang ada kian menurun dari tahun ke tahun.&lt;br /&gt;Ifo, ketua HMPSD III Perpin, mengatakan BEM selama ini kurang eksis. Program advokasi BEM untuk mahasiswa masih kurang. Menurutnya, BEM kurang peka terhadap isu-isu yang berkembang di kampus.&lt;br /&gt; "Katanya ada isu kenaikan biaya pendidikan tuh.. Tapi nyatanya sepi-sepi aja kan? Ya, nggak tahu kalau ternyata BEM udah mengonsep...," ungkapnya.&lt;br /&gt;Ifo juga menambahkan, "BEM kalau dikatakan nggak eksis, ya emang nggak eksis.  Sastra yang katanya reformis ternyata juga dalam acara-acara tertentu biasa-biasa saja," tambahnya.&lt;br /&gt;Benarkah melemahnya gerakan BEM FS karena masih adanya "Paradigma Kesetaraan" di kalangan lembaga kemahasiswaan di Fakultas Sastra?&lt;br /&gt;"BEM sebagai kekuatan utama di Sastra seharusnya bisa mengakomodir UKM-HMJ yang dinaunginya. Menurutku BEM selama ini hanya bekerja sesuai programnya saja. Akibatnya antara BEM dan UKM-HMJ seperti berjalan sendiri-sendiri," ucap Ifo.&lt;br /&gt; "Kalau BEM tidak mengadakan pertemuan-pertemuan dengan UKM-HMJ, aku rasa FUH (Forum UKM-HMJ/HMPSD, Red) masih tetap perlu. Tapi kalau BEM sudah berkomitmen untuk melakukan itu, aku rasa itu sudah mewakili karena legitimasi BEM pun lebih kuat daripada FUH...," tambahnya sambil tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FORUM UKM-HMJ/HMPSD atau yang lebih dikenal FUH dibentuk tahun 2002 atas dasar kebutuhan untuk mewadahi komunikasi antar-UKM dan HMJ/HMPSD Fakultas Sastra. Kegiatannya, mengadakan pertemuan-pertemuan antar UKM-HMJ/HMPSD yang diwakili oleh masing-masing ketua.&lt;br /&gt;Lembaga ini tidak bersifat formal. Begitu juga pertemuan yang diadakan bersifat kondisional. Artinya, kalau dirasa perlu, maka akan kumpul. Hal ini seperti yang dikatakan oleh Arif Gunawan Sulistiyono, mantan pemimpin umum Hayamwuruk. Arif adalah salah satu pemrakarsa FUH. Andri Indradi, mantan ketua Teater EMKA, ditunjuk sebagai koordinator FUH yang pertama.&lt;br /&gt;Mulanya, organisasi itu hanya menjadi wadah komunikasi. Namun, setelah kemudian berjalan, FUH memainkan peran politik kampus. Menurut Arif, langkah itu diambil ketika BEM dan Senat Mahasiswa tidak berfungsi.&lt;br /&gt;"Sekarang begini. Kalau BEM nggak jalan, yang akan menegur adalah Senat. Nah, kalau Senat dan BEM nggak jalan, siapa yang akan menegur keduanya. Lalu siapa dong yang akan menjalankan fungsi student government di kampus Sastra? Makanya harus ada wadah dari mahasiswa, salah satunya seperti FUH ini," jelasnya.&lt;br /&gt;Dalam Kongres Mahasiswa yang diadakan tanggal 18-19 Oktober 2004, keberadaan FUH dipertanyakan. Perdebatan berlangsung alot. Sebagian peserta sidang tidak sepakat dengan konsep FUH  karena akan mencaplok kerja senat sebagai pengontrol lembaga Eksekutif, yakni BEM.&lt;br /&gt;Sementara, peserta sidang yang lain tak mau kalah. Menurutnya, meski konsep tersebut tak ada dalam konsep pemerintahan mana pun, keberadaan FUH tetap diperlukan. Alasannya, kondisi Sastra memang berbeda dari kampus yang lain. BEM dan Senat toh juga bukan lembaga tanpa cacat yang haram dikritik.&lt;br /&gt;Akhirnya, dicapai kesepakatan. FUH tetap ada dalam struktur lembaga kemahasiswaan di Sastra. Posisinya dengan BEM dan Senat Mahasiswa digambarkan dengan garis koordinator. Dengan demikian, FUH tak berhak membubarkan BEM atau Senat. Begitupun juga sebaliknya, BEM dan Senat tak dapat membubarkan FUH.&lt;br /&gt;Dengan garis koordinasi, bukan garis komando, ketiganya mempunyai posisi yang sama dalam struktur lembaga kemahasiswan di Sastra. Tak salah satu pun mempunyai wewenang untuk mengatur. Ketiganya saling berkoordinasi di lapangan. BEM sebagai lembaga eksekutif menjalankan programnya; Senat sebagai lembaga yudikatif menyoroti kerja BEM dan memberi sanksi atau peringatan bila ditemukan pelanggaran; dan FUH berhak menyampaikan aspirasinya kepada BEM dan Senat, dan melaksanakan program kerjanya sesuai bidang dan keahliannya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;GAGALNYA BEM yang dulu ditengarai karena kurangnya koordinasi antar anggota. Banyak anggota yang kurang aktif dan kurang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya. Akibatnya BEM berjalan tanpa kendali. &lt;br /&gt;Menurut Karel, hal yang sangat berpengaruh terhadap kinerja anggotanya salah satunya adalah ketersediaan sarana dan prasarana. Oleh karena itu, pengadaan komputer dan prasarana lainnya diharapkan bisa memberi semangat untuk bekerja. Masalah lainnya adalah anggota sibuk dengan urusannya masing-masing. Untuk mengantisipasi ini, BEM menjadwalkan untuk mengadakan rapat rutin sebulan sekali.&lt;br /&gt;"Saya bisa ngomong seperti ini karena saya juga dulu termasuk anggota BEM," ungkapnya..&lt;br /&gt;Saat ini, BEM telah menyediakan kotak saran dan kritik yang dipasang di depan kantornya. Hal ini bertujuan untuk menampung saran dan kritik yang ditujukan kepadanya. Selain itu, langkah tersebut juga bermaksud untuk menghindari kesan bahwa BEM tertutup dan eksklusif.&lt;br /&gt;Secara struktural,  kepengurusan BEM kali ini tidak banyak berubah. Kalau dulu terdapat tiga departemen, yakni Penalaran, Kebijakan dan Pelayanan, sekarang hanya dua departemen. Departemen kebijakan dan pelayanan digabung menjadi satu.&lt;br /&gt;Mengenai keberadaan kampus Sejarah dan Kearsipan yang terpisah di Tembalang, Karel mengaku tak ada hambatan.&lt;br /&gt;"Selama ini koordinasi tidak ada masalah. Pengurus BEM yang ada di sana juga aktif mengikuti rapat rutin di sini (kantor BEM yang ada di kampus Pleburan, Red)."&lt;br /&gt;Ditengah ketidakpercayaan sebagian pihak akan kinerja BEM, dengan wajah BEM yang baru ini, Karel merasa yakin akan bisa mengangkat kembali nama baik BEM di mata mahasiswa.&lt;br /&gt;"Saya tahu, sampai sekarang pun pandangan miring terhadap BEM masih sering terdengar. Tapi, kami terus berusaha sebaik mungkin," ucapnya. ***&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19448952-113335498774711837?l=agunghadiwijaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/feeds/113335498774711837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19448952&amp;postID=113335498774711837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19448952/posts/default/113335498774711837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19448952/posts/default/113335498774711837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/2005/11/tak-luput-dari-kritikan.html' title='Tak Luput Dari Kritikan'/><author><name>agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15355119585970269501</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-19448952.post-113335197862664727</id><published>2005-11-30T03:54:00.000-08:00</published><updated>2005-11-30T04:30:49.303-08:00</updated><title type='text'>Menimbang Akreditasi Fakultas Sastra</title><content type='html'>&lt;em&gt;Beberapa Jurusan menyandang peringkat akreditasi memuaskan. Namun kenyataannya kualitas pendidikan masih jauh dari harapan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis: Agung Hadiwijaya, Sundari Dewi Ningrum&lt;br /&gt;Reporter: Mustaghfirin, Nitya Gema Trisna Yudha, Norma Atika Sari, Syahrul M Ansyari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SUATU sore, ruang laboratorium komputer Fakultas Sastra Universitas Diponegoro (FS Undip) terlihat ramai. Semua komputer menyala. Mahasiswa program Diploma III (DIII) Bahasa Inggris angkatan 2003 kelompok 5 tengah mengikuti praktikum komputer di sana.&lt;br /&gt;Waktu menunjukan pukul 18.30 WIB. Sekitar lima belas orang mahasiswa tengah duduk di depan komputer masing-masing. Seorang dosen berdiri di depan kelas menjelaskan materi yang sedang diajarkan.&lt;br /&gt;“Malam ini silakan untuk  mempresentasikan Power Point yang sudah kalian buat, kalau ada yang belum selesai, pokoknya malam ini semua harus presentasi,“ ucapnya serius.&lt;br /&gt;Emil, Mahasiswa DIII Bahasa Inggris 2003, dengan sedikit ragu mengangkat tangan. Seketika itu juga dosen pun mempersilakannya. Emil menuju ke depan kelas dan memulai presentasi. Tema yang dipilih tentang foto-foto FS Undip yang terdapat pada selebaran ternyata jauh dari kenyataan.&lt;br /&gt;“Teman-teman, saya memilih tema ini karena menurut saya foto-foto yang ada pada selebaran-selebaran Fakultas Sastra ternyata tidak sesuai dengan kenyataannya,“ ucap Emil.&lt;br /&gt;Emil merasa kecewa karena pada kenyataannya kondisi fisik FS Undip tidak sesuai dengan yang ada pada selebaran. Sambil mengarahkan kursor komputer pada presentasinya, ia menjelaskan bahwa foto foto itu hanya sekedar pemanis agar terlihat menarik. Pada kenyataannya, banyak ruangan kelas yang hampir roboh. Pendingin ruangan juga sering mati. Belum lagi laboratorium bahasa yang tak didukung dengan peralatan yang memadai. Kalaupun ada, itu pun sudah tidak berfungsi lagi. Selain itu, masih banyak lagi kekurangan lainnya.&lt;br /&gt;“Katanya Fakultas Sastra mendapat akreditasi A, tapi kenyataanya masih seperti ini. Kalau alasannya ingin dilestarikan gedungnya, kenapa nggak dibuat museum aja sekalian ..“Ungkapnya kecewa. &lt;br /&gt; Kisah Emil barangkali hanyalah sekelumit dari kekecewaan mahasiswa FS Undip terhadap keadaan kampusnya. Yang menjadi keprihatinannya, mengapa gambar-gambar yang ditampilkan pada selebaran itu hanya yang baik. Padahal keadaan sebenarnya masih banyak kekurangan di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;FS UNDIP memiliki tiga jurusan untuk program Strata 1 (S1) dan empat program studi untuk Diploma III. Tiga jurusan S1 yakni Sastra Inggris, Sastra Indonesia, dan Ilmu Sejarah. Sedang program studi untuk program D III meliputi Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, Perpustakaan dan Informasi (Perpin), dan Kearsipan. Mulai tahun ajaran baru 2005/2006 ini, dibuka jurusan S1 Ilmu Perpustakaan.&lt;br /&gt;Ada juga program ekstensi yakni Sastra Inggris dan Sastra Indonesia. Bila dulu ekstensi hanya menerima mahasiswa pindahan dari DIII, sekarang juga menerima lulusan SMU. Jumlahnya lebih banyak dari mahasiswa reguler. Sebut saja ekstensi Sastra Inggris. Penerimaan mahasiswa baru tiap tahunnya mengalami kenaikan. Sebagai perbandingan, pada tahun 2001 jumlah mahasiswa yang diterima sekitar 70-an mahasiswa. Satu tahun berikutnya sudah mencapai 150. Kondisi ini bisa dimaklumi, karena mulai tahun 2003 ekstensi telah memiliki gedung sendiri. Lokasinya terletak di pojok belakang kampus Pleburan FS Undip.&lt;br /&gt;Kendati program ekstensi telah memiliki gedung sendiri, namun mahasiswa masih masuk kuliah pada sore hari. Alasannya, karena beberapa dosen juga mengajar mahasiswa reguler di pagi hari. Kecuali ekstensi Sastra Indonesia. Karena minimnya mahasiswa yang berminat, mahasiswa program esktensi Sastra Indonesia digabungkan dengan kelas reguler.&lt;br /&gt;Selain itu, FS Undip juga telah membuka program magister. Ada dua program, yakni S2 Ilmu Susastra dan Ilmu Linguistik. Karena belum memiliki gedung sendiri, mahasiswa S2 kuliah menempati ruang sidang. Kuliah dilangsungkan pada sore hari.&lt;br /&gt;Tahun ini, FS Undip mengukir prestasi yang menggembirakan. Ketiga jurusan untuk program Strata 1 (S1), yakni Sastra Inggris, Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah memperoleh peringkat akreditasi A. Padahal pada tahun 2002/2003 hanya Jurusan Sastra Inggris saja yang mendapat peringkat akreditasi memuaskan tersebut. Sementara untuk program studi DIII dan ekstensi belum mendapat status akreditasi.&lt;br /&gt;Pihak yang berhak memberikan penilaian akreditasi adalah Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Lembaga ini independen. Keterangan tersebut seperti yang diperoleh dari penjelasan Prof. Dr. Sri Rahayu Prihatmi, MA., dekan FS Undip.&lt;br /&gt;BAN-PT merupakan  organisasi nir-struktural di lingkungan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti). Dibentuk untuk membantu pemerintah melakukan tugas dan kewajiban melaksanaan pengawasan dan efisiensi mutu pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;Selain itu, BAN-PT juga bertugas melakukan penilaian terhadap perguruan tinggi secara berkala. Meliputi kurikulum, mutu dan jumlah tenaga pendidik, keadaan mahasiswa, pelaksanaan pendidikan, sarana dan prasarana, tatalaksana administrasi akademik, kepegawaian , keuangan dan kerumahtanggaan.&lt;br /&gt;BAN-PT dibentuk berdasarkan keputusan menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0326/u/1994 tanggal 15 Desember 1994. Selanjutnya diubah dengan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0224/U/1995. Keanggotaanya terdiri dari ketua, sekretaris dan anggota yang meliputi unsur pemerintah, perguruan tinggi, badan usaha swasta dan lembaga pemerintah non-departemen (NGO).&lt;br /&gt;Di FS Undip sendiri, seperti diakui oleh Rahayu Prihatmi, akreditasi terakhir kalinya diberikan pada tahun 2002. Waktu itu hanya jurusan Sastra Inggris yang memperoleh peringkat akreditasi A. Jurusan Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah mendapat peringkat akreditasi B.&lt;br /&gt;Belakangan diketahui akreditasi diperbaharui setiap empat tahun sekali. Artinya, setiap  empat tahun sekali akreditasi tersebut didaftarkan kembali ke BAN-PT. Lebih lanjut seperti yang dituturkan oleh Agus Subiyanto, Ketua Jurusan Sastra Inggris “katakanlah akreditasi itu empat tahun harus didaftarkan kembali ke Badan Akreditasi Nasional. Untuk menilai apakah tepat mendapatkan A atau turun ke B, atau ke C. Setiap empat tahun sekali kalau A, kalau C mungkin dua tahun, kalau B tiga tahun. Sepertinya seperti itu.”&lt;br /&gt;Informasi terakhir, sesuai dengan yang tertera dalam buku pedoman Undip edisi 2005-2006, jurusan Sastra Inggris, Sastra Indonesia dan Ilmu Sejarah telah memperoleh akreditasi A. Sedangkan untuk program studi DIII dan ekstensi, baru akan diurus. “Universitaslah yang mengkoordinir fakultas-fakultas untuk mengajukan proposal akreditasi, “ imbuh Rahayu Prihatmi.&lt;br /&gt;Apa pentingnya status akreditasi bagi perguruan tinggi, khususnya FS Undip?&lt;br /&gt;Rahayu Prihatmi mengatakan akreditasi ini mempunyai arti penting. Selain untuk mengetahui perolehan status yang diakui secara nasional, ternyata juga bisa dijadikan syarat untuk mengikuti hibah kompetisi yang mengharuskan adanya status akreditasi. Dengan adanya akreditasi A, jurusan-jurusan bisa mengikuti kompetisi-kompetisi tersebut yang bertujuan memperoleh dana. Dana ini nantinya dapat digunakan untuk pengembangan sarana dan prasarana masing-masing jurusan.&lt;br /&gt;Hal yang sama juga diungkapkan Agus Subianto. Menurutnya ada beberapa kompetisi yang mensyaratkan akreditasi A untuk bisa mengikutinya. “Dengan akreditasi A, kita bisa mengikuti beberapa program hibah kompetisi yang mensyaratkan akreditasi A. Seperti program B ataupun A3. Program itu harus memiliki akreditasi A. ada yang 800 juta pertahun“.&lt;br /&gt;Akan tetapi tidak semua program studi atau jurusan bisa memenangkan hibah bersaing tresebut. Mereka berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Untuk mengikuti program itu, syarat utamanya harus memiliki akreditasi A.&lt;br /&gt;Secara umum tolok ukur yang digunakan dalam penilaian peringkat akreditasi ini adalah Tri Dharma perguruan tinggi yang meliputi pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Agus menyebutkan ada beberapa indikator yang berkaitan dengan output. Misalnya, indeks prestasi lulusan, indeks prestasi dosen, berapa lama kelulusan mahasiswa, lama bimbingan skripsi, ada tidaknya angka DO, dan lain sebagainya. Kemudian, yang tak kalah penting, adalah sumber daya yang dimiliki oleh perguruan tinggi dan fasilitas atau sarana dan prasarana, juga menjadi poin penting dalam penilaian akreditasi.&lt;br /&gt;Berapapun peringkat akreditasi sebenarnya tidak terlalu mendesak bagi perguruan tinggi yang sudah memiliki nama, khususnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Minat mahasiswa di PTN tidak banyak terpengaruh oleh akreditasi. Toh tidak mendapat akreditasi pun tak jadi masalah. Tapi persoalan akan lain bagi Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Akreditasi digunakan untuk menjaring minat mahasiswa.&lt;br /&gt;Pandangan senada juga dikemukakan oleh Agus Subiyanto. Ia punya cerita dari pengalaman teman-temannya di Universitas Indonesia (UI). “Mereka tidak perlu gembar-gembor akreditasi, toh mahasiswa yang daftar ke sana tetap banyak. Karena dia sudah punya nama, sehingga akreditasi tidak diperlukan untuk mendapatkan mahasiswa. Itu juga saya kira terjadi di perguruan-perguruan tinggi negeri. Saya kira akreditasi A, B atau C, mahasiswa juga akan berbondong-bondong untuk memilih negeri,“ tuturnya bersemangat.&lt;br /&gt;Bagi Agus, akreditasi lebih sebagai evaluasi daripada untuk tujuan promosi. Beberapa pertanyaan yang ia ajukan seperti, apakah proses penyelenggaraaan belajar-mengajar di jurusan sudah sesuai dengan kualitas, baku mutunya istilahnya. Apakah itu sudah sesuai sebagai salah satu tolok ukur akreditasi? Jadi tujuan dari akreditasi untuk mengevaluasi apakah selama ini proses belajar mengajar sudah sesuai dengan kualitas yang diharapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;AKREDITASI yang diperoleh FS Undip bukan merupakan hadiah, tapi melalui pengujian. Untuk dapat menyandang akreditasi A, fakultas harus memenuhi beberapa kriteria. Di antaranya, seperti sistem pengajaran; SDM yang dimiliki, baik dosen maupun mahasiswa; maupun sarana prasarana merupakan poin penting dalam perolehan akreditasi A tersebut.&lt;br /&gt; Ada beberapa tahapan untuk mendapatkan akreditasi. Pertama-tama, fakultas mengajukan ke universitas, kemudian ditindak lanjuti ke BAN-PT. Sebelum diajukan ke tingkat nasional, universitas melakukan penilaian terlebih dulu pada fakultas yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Selanjutnya, pihak universitas memberi perintah pada fakultas untuk mengajukan akreditasi. Setelah itu, fakultas menyusun proposal yang ditujukan pada BAN-PT dengan terlebih dulu diperiksa pihak  universitas. Setelah fakultas melengkapi syarat-syarat pengajuan dan mengisi borang (semacam blangko isian) dan direview oleh universitas, proposal itu didaftarkan ke BAN-PT. Kemudian BAN-PT akan melakukan visitisasi atau peninjauan ke fakultas yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Visitisasi ini dilakukan oleh accessor atau tim penilai yang ditunjuk oleh BAN-PT. Tujuannya untuk mencocokkan data-data yang ada pada proposal dengan keadaan di lapangan. Tim penilai biasanya terdiri dari dua orang yang berasal dari universitas lain.&lt;br /&gt;“Kebetulan saya juga pernah menjadi accessor di Universitas Sumatra Utara (USU),“ kenang Rahayu Prihatmi.&lt;br /&gt;Setelah semua tahapan selesai, fakultas akan memperoleh peringkat akreditasi. Peringkat ini biasanya ditunjukan dengan huruf yaitu A,B C atau NA.&lt;br /&gt;Sudah layakkah predikat akredatasi yang disandang oleh FS Undip?&lt;br /&gt;Agus mengaku jurusan Sastra Inggris masih kurang dalam bidang penelitian. Tidak banyak dosen yang terlibat dalam penelitian. Sehingga hal tersebut bisa mengurangi dalam penilaian. Tapi, kekurangan itu bisa ditutupi dengan indikator lain.&lt;br /&gt;“Menurut saya, kaualifikasi dosen sebagian besar sudah master ke atas. Itu kan suatu poin tersendiri dalam akreditasi. Kita sudah punya doktor, juga kualifikasi tersendiri. Hal tersebut merupakan salah satu yang memberikan nilai tambah dalam akreditasi. Persentase dosen yang memiliki  gelar master ke atas apalagi doktor itu sangat berpengaruh,“ paparnya.&lt;br /&gt;Benarkah seperti yang dikatakan oleh Agus bahwa kekurangan yang ada dapat ditutupi dengan kelebihan seperti yang disampaikan. Apakah mahasiswa sudah cukup puas dengan kondisi ini?&lt;br /&gt;Ternyata mahasiswa FS Undip punya pendapat beragam. Diantaranya menganggap akreditasi A ini tidak pantas diberikan. Aris, mahasiswa D III Bahasa Inggris 2002, menganggap akreditasi A tidak layak disandang oleh FS Undip. “A haruslah seimbang dengan kualitasnya,“ ujarnya.&lt;br /&gt;Aris mengatakan secara pribadi tidak merasakan dampak dari akreditasi A tersebut. Selebihnya dia berharap akan adanya perbaikan dalam berbagai hal. Perbaikan gedung, sistem pengajaran, birokrasi kampus, serta pelayanan yang diberikan pada mahasiswa.&lt;br /&gt;Hal senada juga disampaikan Rasep Agung, mahasiswa Sastra Inggris 2004. Menurutnya kualitas mahasiswa FS Undip masih kalah jauh dengan mahasiswa FS Unnes (Universitas Negeri Semarang). Selain itu menurut Agung, fasilitas kampus juga masih belum memadai.&lt;br /&gt;”Yah, kalau masalah fasilitas itu jangan ditanyakan, menyedihkan. Gimana ya, memuakkan! Kampusnya aja udah juelek, gimana mau ningkatin SDMnya?,“ tambahnya sambil tersenyum.&lt;br /&gt;Berbeda dengan Agung, Ari Prabowo, mahasiswa Sastra Inggris 2003, merasa tidak risih dengan minimnya fasilitas di kampusnya. Hanya saja masih perlu perbaikan SDM. Ia menyoroti tak adanya waktu yang cukup bagi mahasiswa untuk konsultasi dengan dosen. Menurutnya, hal ini karena setiap dosen mengampu banyak mata kuliah. Pagi hari mereka mengajar kelas reguler atau DIII, sore harinya masih harus mengajar kelas ekstensi. Belum lagi yang nyambi di swasta.&lt;br /&gt;“Gimana ya, dosen kan juga manusia, hahaha....“&lt;br /&gt;Ari mulanya terpengaruh oleh akreditasi yang diperoleh pada jurusan Sastra Inggris, studi yang ia tekuni sekarang. Ia mendapat informasi sewaktu mengikuti Bimbingan Belajar (Bimbel) untuk persiapan mengikuti SPMB. Ia adalah alumni SMU 3 Semarang. Sebelum kuliah, ia sudah sempat melihat kampus FS Undip. “Dengan kampus seperti itu kok bisa dapat akreditasi A, pasti orang-orangnya hebat. Tapi ternyata, sama saja,“ kenangnya, kecewa.&lt;br /&gt;Dia melihat banyak mahasiswa yang salah tempat. Misalnya sebenarnya mereka ingin masuk di fakultas tertentu. Fakultas Sastra hanya menjadi pilihan yang kesekian kalinya. Karena tidak diterima di pilihan yang pertama, belajarnya pun setengah-setengah.&lt;br /&gt;Dia juga tidak sepakat dengan komentar Agung yang mengatakan bahwa Fakultas Sastra Unnes lebih baik dari FS Undip. Menurut pengamatannya, kondisi keduanya sebenarnya tak jauh berbeda. Kualitas dosen di sini lebih baik. Hanya saja kegiatan kemahasiswan di sana lebih aktif. Hal ini yang kemudian membuat kesan di luar seakan-akan Unnes lebih baik.&lt;br /&gt;Sejak tahun 2004, Ari telibat di EDSA, organisasi Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris. Ia menjabat sebagai staf pengurus DEC (Diponegoro English Club), badan semi otonom di bawah EDSA. Ia menyayangkan respon mahasiswa yang masih sangat kurang. Ia mengusulkan agar DEC menjadi kelas suplemen Speaking bagi mahasiswa Sastra Inggris. ”Masak mahasiswa Sastra Inggris kok malu-malu ngomong Bahasa Inggris,“ ujarnya sambil nyengir.&lt;br /&gt;Selain itu, ia juga mengusulkan agar beberapa matakuliah yang tidak relevan dihilangkan. Atau kalau perlu diganti dengan matakuliah yang berkaitan dengan jurusan. Ia mengambil contoh matakuliah pendidikan Pancasila dan Pendidikan Agama.&lt;br /&gt;”Saya bukannya orang yang atheis, tapi kalau matakuliah pendidikan agama masih diberikan, kok kayaknya nggak perlu,“ ujarnya tersenyum.&lt;br /&gt;Menanggapi komentar para mahasiswa tersebut, Rahayu Prihatmi menilai bahwa FS Undip sudah selayaknya mendapat akreditsi A. Alasannya, karena memang jurusan-jurusan tersebut bagus. “Jurusan Sastra Inggris memang bagus dan sudah selayaknya menyandang akreditasi A.. Jurusan Sastra Indonesia juga bagus karena banyak guru besarnya di bidang linguistik.. Sejarah SDMnya sangat tangguh, mereka banyak yang sudah S3 dan sering menerima proyek hibah bersaing.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MEMANG ada banyak kriteria yang digunakan untuk penilaian akreditasi. Mahasiswa menganggap masih banyak hal yang harus diperbaiki. Diantaranya seperti kualitas SDM, fasilitas, dan birokrasi kampus. Karel Juniardi, presiden BEM FS Undip, mengatakan bahwa sistem pengajaran selama ini masih buruk. Padahal prestasi mahasiswa juga ditentukan oleh kualitas dosen dalam mengajar.&lt;br /&gt;”Seorang pengajar yang baik pasti akan menghasilkan mahasiswa yang baik. Ya kalau mahasiswanya masih begitu, pengajarnya perlu dipertanyakan. Capable nggak?.” katanya.&lt;br /&gt;Karel menilai pengajaran di FS Undip terlalu santai. Dosen kurang memberikan pelatihan-pelatihan ataupun penugasan. Akibatnya, mahasiswa banyak menganggur. ”Coba kalau dosen sering memberi pelatihan ataupun penugasan, pasti mahasiswa akan lebih aktif, jadi tidak nganggur, ” tambahnya.&lt;br /&gt;Selain itu, sangat perlu diadakan peningkatan kualitas pengajar. Salah satunya dengan mendatangkan dosen tamu dari luar negeri. Dia mengusulkan agar jurusan Sejarah yang ada bahasa Belanda selama empat semester bisa mendatangkan dosen dari Belanda langsung.&lt;br /&gt;Selama ini fasilitas di FS Undip juga sering dikeluhkan. Mulai dari kamar kecil yang kotor, perpustakaan yang tidak lengkap, hearphone laboratorium yang tidak berfungsi, pelayanan administrasi yang kurang ramah dan masih banyak lagi yang lainnya.&lt;br /&gt;Drs.Catur Kepirianto, dosen Sastra Inggris juga mengakui bahwa masalah fasilitas kampus ini memang memprihatinkan.”Ya, memang kita harus sangat prihatin. Sangat prihatin sekali. Karena, seperti lab dan fasilitas yang lain digunakan untuk bisa belajar dan mengajar secara maksimal, tetapi mungkin masalah dana yang minim, keinginanan untuk memperbaiki itu menjadi tersendat, “ ungkapnya prihatin.&lt;br /&gt;Bakhtiar Aulawi, mahasiswa Sastra Inggris 2000, tidak sepakat bila kondisi fasilitas kampus yang memprihatinkan ini karena alasan minimnya dana. Menurutnya, fakultas memang tidak memprioritaskan perbaikan fasilitas tersebut. “Coba berapa kali tuntutan untuk perbaikan WC itu dilontarkan oleh mahasiswa. Berkali-kali kritikan itu disampaikan lewat Surat Pembaca Hayamwuruk, tapi baru-baru ini fakultas menanggapinya, “ungkapnya kesal.&lt;br /&gt;Kemudian Bakhtiar membandingkan dengan pembangunan gedung di samping pos satpam yang pada tahun ajaran baru ini dibuka untuk layanan foto kopi dan wartel. “Itu entah usul dari mana. Yang jelas bukan dari mahasiswa. Tapi kok bisa dengan cepat terselesaikan ya, tidak kayak WC yang perbaikannya harus menunggu sekian tahun. Keberadaannya juga perlu dipertanyakan, “ungkapnya tambah kesal.&lt;br /&gt;Di sisi lain, Rahayu Prihatmi juga mengaku prihatin. Walaupun mendapat akreditasi A, jurusan Sastra Inggris belum mempunyai dosen yang gelar doktornya murni sastra. “Itu merupakan keprihatinan saya. Kita dapat A tetapi dosen-dosen inggris yang murni sastra gelar doktornya hampir tidak ada. Kosong lho jurusan inggris ini. O ya, hanya pak Heru dan bu Hendrati saja. Lainnya S2. Yang murni Sastra Linguistics hanya dua itu tadi, ” sesalnya.&lt;br /&gt;Dia juga merasa jengkel. Dosen-dosen Sastra Inggris hanya mau studi di dalam negeri saja. Padahal beasiswa ke luar negeri itu banyak. Tapi tidak sepenuhnya dimanfaatkan.&lt;br /&gt;Karel menilai bahwa selama ini fakultas juga kurang memberi perhatian pada mahasiswa. Khusunya dalam keikutsertaan lomba-lomba, seperti karya ilmiah, debat kontes, dan sebagainya. Hal ini membuat kegiatan mahasiswa terkesan seenaknya.&lt;br /&gt;Selama ini penelitian-penelitian yang dilakukan baik oleh dosen maupun mahasiswa masih sangat kurang. Sebenarnya dosen harus bisa membagi waktu untuk megajar dan penelitian.“Kan ada Tri Dharma yah, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Nah ketiga-tiganya harus seimbang. Saya melihat penelitiannya justru masih sangat kurang, “tambahnya.&lt;br /&gt;Sementara itu, jurusan Sastra Inggris punya tips sehingga akreditasi A bisa diraih. Agus Subianto mengakui jurusan Satra Inggris masih kurang aktif dalam penelitian. Namun kekurangan itu bisa ditutupi dengan kelebihan lainnya, seperti kualitas dosen, IPK mahasiswa, lamanya masa studi dan lainnya sehingga akreditasi A bisa Kita Peroleh.&lt;br /&gt;Peran mahasiswa dalam keikutsertaan lomba juga berpengaruh dalam penilaian. Contohnya karya ilmiah. “Kemarin karya ilmiah juga sempat dihasilkan mahasiswa. Kita tahu ternyata HMJ Inggris membuat majalah Miracle, itu kan juga poin tersendiri,” ungkap Agus bangga.&lt;br /&gt;Muzzaka Musaif, Sekretaris Jurusan Sastra Indonesia, mengatakan bahwa saat ini jurusan Sastra Indonesia tengah berbenah. Salah satunya dengan memperbaiki database jurusan yang selama ini masih kacau. Selain itu, perpustakaan jurusan juga sudah dikatalogisasi. “Kita sudah mengupayakan perlengkapan hal-hal yang berkaitan dengan database jurusan. Karena waktu itu kita mendapat kritik bahwa data-data tentang kemahasiswaan itu tidak lengkap, ”ungkapnya.&lt;br /&gt;Kriteria penilaian juga termasuk pada jumlah IPK yang diperoleh mahasiswa, lamanya waktu studi, jumlah SKS yang telah ditempuh. Di Jurusan Sastra Indonesia sendiri, menurut Muzakka, rata-rata lamanya studi adalah 5 tahun. Bahkan ada yang 3 tahun 9 bulan. Indeks Prestasi rata rata mahasiswa Sastra indonsia adalah 2,75, bahkan pernah rata-ratanya hampir 3,00. &lt;br /&gt;Jurusan Sastra Indonesia juga pernah memenangkan hibah kompetisi. Namanya SP4.”Kita baru saja dapat SP4, kemarin kita dapat tiga ratus sekian juta. Sedangkan yang kedua ini katanya gagal, kita harus merevisi lagi untuk diikutkan tahun depan, ”tambahnya.&lt;br /&gt;Manfaat akreditasi yang dirasakan jurusan Sastra Indonesia adalah  tambahan jumlah kursi dari Dikti. Sastra Indonesia saat ini bisa menerima 60 mahasiswa. Tahun lalu hanya dijatah 40 kursi saja. Termasuk juga Jalur PSSB, Sastra Indonesia sekarang menerima 15 kursi, walaupun  yang mendaftar ulang hanya sekitar 8 orang. &lt;br /&gt;Keterbatasan dana juga diakui oleh Rahayu Prihatmi. Selama ini, fakultas memang tidak bisa mendanai untuk masalah fasilitas. Menurutnya dana pengembangan fakultas ini urusan pemerintah.” Fakultas kemampuannya apa? Harusnya yang memikirkan negara, ”ujarnya.&lt;br /&gt;Selanjutnya, seperti diungkapkan oleh Rahayu Prihatmi dalam sambutannya pada malam resepsi peringatan lustrum VIII FS Undip, nama FS Undip akan diubah menjadi fakultas Ilmu Budaya. Usulan ini baru diajukan ke Dirjen Dikti. Alasannya, nama fakultas Sastra terlalu sempit, tidak bisa menampung lagi jurusan maupun program studi yang ada. “kita kan tidak hanya mempelajari ilmu sastra, tapi juga ilmu humaniora yang lain, “paparnya.&lt;br /&gt;Apakah kabar adanya rencana perubahan nama FS Undip tersebut merupakan kabar gembira atau justru meresahkan para mahasiswa?&lt;br /&gt;“Kampus ini sudah semakin sempit, tapi anehnya penerimaan mahasiswa terus ditambah. Program-program studi juga dibuka. Padahal yang sudah ada saja belum terurus dengan baik, “ungkap Bakhtiar kecewa.&lt;br /&gt;Rupanya ada perbedaan pendapat antara mahasiswa dengan pihak birokrat kampus. Di satu pihak menganggap akreditasi ini memang layak disandang, namun di sisi lain pihak masih ada ketidakpuasan.****&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/19448952-113335197862664727?l=agunghadiwijaya.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/feeds/113335197862664727/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=19448952&amp;postID=113335197862664727' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19448952/posts/default/113335197862664727'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/19448952/posts/default/113335197862664727'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://agunghadiwijaya.blogspot.com/2005/11/menimbang-akreditasi-fakultas-sastra.html' title='Menimbang Akreditasi Fakultas Sastra'/><author><name>agung</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15355119585970269501</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
